Manusia merupakan sebuah gambaran makhluk hidup yang memiliki unsur pembentuk yang kompleks. Ia bukanlah seperti malaikat yang tidak memiliki nafsu, atau bukan seperti iblis yang tak mempunyai nurani. Dorongan nafsu, maupun pandangan nurani, keduanya dimiliki oleh setiap individu. Nafsu dan nurani merupakan dua kutub magnet yang saling berlawanan. Mereka saling tarik menarik dan saling mempengaruhi. Jika nafsu mampu mendominasi nurani, maka kehidupan manusia tak jauh bedanya dengan binatang, kebutuhan hidupnya takkan jauh dari pusaran perut dan kemaluannya. Sedangkan bila nurani berkuasa, manusia layaknya malaikat, menebar kebaikan dimuka bumi. Kebutuhan hidupnya bukan lagi sekadar pusaran perut ataupun kemaluan, akan tetapi lebih tinggi lagi, masuk dalam lingkup kebutuhan akan spiritualitas atau ruh. Sedangkan dalam Hirarkhi Maslow, orang seperti ini sudah layak berada pada tahap aktualisasi diri karena akalnya telah merdeka, lepas dari penjajahan nafsunya.
Manusia, memang dalam beberapa sisi lebih unggul daripada malaikat. Dalam melakukan suatu ketaatan, manusia membutuhkan perjuangan. Ia harus lebih dulu mampu mengalahkan nafsunya yang cenderung mendorongnya pada kelalaian serta kemaksiatan. Sedangkan malaikat, tidaklah memiliki nafsu, tetapi ia telah terkondisikan, terdoktrin, dan berperilaku secara otomatis sesuai kehendak Tuhan-Nya. Manusia pun dianugerahi kemampuan kognitif, akal, otak guna memikirkan problem solving yang mungkin ia hadapi dalam kehidupannya. Malaikat tidak dibekali kognitif, sehingga ia tidak mungkin membantah perintah Tuhan-Nya. Berbeda dengan manusia, walaupun lemah akan tetapi seringkali menantang perintah Tuhan-Nya, semua itu karena akalnya yang kelewat batas. Namun dengan anugerah akal inilah, manusia patut berbangga hati. Dalam sejarah awal kehidupan manusia, Adam, pernah mengajari malaikat di surga. Dan kita pun patut sedih, karena justru akibat dorongan nafsu, Adam diturunkan dari kenikmatan langit.
Manusia, memang dalam beberapa sisi lebih unggul daripada malaikat. Dalam melakukan suatu ketaatan, manusia membutuhkan perjuangan. Ia harus lebih dulu mampu mengalahkan nafsunya yang cenderung mendorongnya pada kelalaian serta kemaksiatan. Sedangkan malaikat, tidaklah memiliki nafsu, tetapi ia telah terkondisikan, terdoktrin, dan berperilaku secara otomatis sesuai kehendak Tuhan-Nya. Manusia pun dianugerahi kemampuan kognitif, akal, otak guna memikirkan problem solving yang mungkin ia hadapi dalam kehidupannya. Malaikat tidak dibekali kognitif, sehingga ia tidak mungkin membantah perintah Tuhan-Nya. Berbeda dengan manusia, walaupun lemah akan tetapi seringkali menantang perintah Tuhan-Nya, semua itu karena akalnya yang kelewat batas. Namun dengan anugerah akal inilah, manusia patut berbangga hati. Dalam sejarah awal kehidupan manusia, Adam, pernah mengajari malaikat di surga. Dan kita pun patut sedih, karena justru akibat dorongan nafsu, Adam diturunkan dari kenikmatan langit.
Dalam kajian psikologi, nafsu mungkin masuk dalam ranah afektif. Mungkin tepatnya masuk dalam sub materi “drive”. Entahlah, tak begitu paham. Dorongan nafsu manusia memang lebih banyak mengarah pada perilaku negatif. Oleh karenanya, Tuhan mengancam manusia yang tidak mampu mengendalikan nafsunya dengan dosa, yang kemudian akan diasingkan ke suatu tempat bernama neraka, sedangkan hukum manusia memberi ancaman dengan pembatasan ruang gerak berupa sebuah ruang yang diberi julukan penjara. Namun toh, semua jenis pusnishment itu tidak serta merta menjadikan dunia bersih dari ulah usil manusia. Selalu saja ada pelanggaran disana-sini. Penjara justru penuh dihuni para napi yang jumlahnya berada diambang batas kapasitasnya. Ancaman panasnya neraka pun seolah hanya terbawa angin lalu. Bahkan manusia tak juga belajar dari berbagai adzab yang sering menimpanya. Demikianlah manusia, sosok makhluk kompleks yang sulit dipahami, bahkan ilmu psikologi pun dibuatnya kewalahan.
No comments:
Post a Comment